Home

PHOTO GALLERY

OUR SERVICE

ARTICLE (ENGLISH)

OUR PRODUCT

Contact

ARTIKEL (INDONESIA)

International Travelling & Photos

Accessory Gallery
Motret Apik
Motret Apik mean taking good pictures
Malacca
Singapore
Dari Singapore ke Phuket lewat darat.
Sekilas Bangkok dan floating market
Sepintas Stockholm
Roma kota tua yang exotic
Alam Switzerland yg indah
Tips untuk perjalanan darat dari Singapore ke Bangkok
Malacca

Melaka yang saya kenal

by:Handayana

Suatu hari saya mendapat kesempatan untuk menyeberang ke Melaka dari Dumai menggunakan kapal motor penumpang INDOMAL. Ongkos dari Dumai ke Melaka sekali jalan dibanderol Rp 300.000 tapi kalau membeli langsung untuk pulang pergi menjadi Rp 550.000. Diterminal keberangkatan Dumai semua penumpang diminta mendaftar keberangkatan dan menunggu dibukanya pemeriksaan Imigrasi. Tidak ada pemeriksaan barang bawaan sama sekali. Gerbang scan untuk penginderaan penumpang dan scan untuk barang yang tempak di gerbang masuk nampaknya tidak berfungsi atau tidak difungsikan. Pemeriksaan secara fisik pun tidak ada. Menjelang keberangkatan baru Imigrasi dibuka dan para penumpang bisa langsung naik ke Kapal setelah melewati loket Imigrasi untuk diperiksa passport nya. Tidak ada hambatan dalam pemeriksaan Imigrasi dan semua berjalan dengan lancar. Jadwal berangkat yang semestinya jam 10:00 pagi mundur sampai jam 10:30. Mungkin ini bentuk kemudahan atau toleransi di Indonesia ketika belum semua penumpang datang masih ditunggu. Mungkin ngetem setengah jam ini sudah menjadi kebiasaan siapa tahu masih ada tambahan penumpang toh tidak ada yang complain. Dengan kecepatan rata rata 50 Km/jam perjalanan laut ini ditempuh 2.5 jam dengan rute menyusuri selat Bengkalis menuju timur kemudian ke timur laut mengarah ke Malaka. Pada bulan Maret gelombang tidak begitu besar bahkan lebih kecil dari perkiraan saya. Didalam kapal para penumpang mendapat sajian miehun dalam kotak steroform dan segelas air mineral. Kapal ini berpendingin udara dan juga setiap ruangan dilengakpi dengan TV yang memutar film sepanjang perjalanan. Sampai di terminal kedatangan di Malaka kami antri untuk urusan Imigrasi yang semuanya berjalan cepat. Lagi lagi rasa sedih jika membandingkan fasilitas di tanah air dengan di negeri tetangga kita ini. Setelah menjalani pemeriksaan Imigrasi kami melangkah keluar terminal sekitar jam 2 waktu Malaysia. Ternyata kami sudah berada dilingkungan kota tua Melaka yang menjadi pusat kunjungan wisata tsb. Bagi kami ini suatu surprise sebab kami belum mengatahui sebelumnya bahwa tujuan yang akan kami kunjungi sudah didepan mata. Kami mencari makan siang dipasar yang hanya 100 meteran dari pintu kedatangan dan setelah itu mencari hotel disekitar jalan Jonker pusat berkumpulnya turis dimalam hari. Hotel sederhana seharga 100 Ringgit menjadi pilihan kami. First Hotel namanya yang lebih cocok disebut hotel para back packer. Sederhana dan kecil tapi cukup bersih, ber AC. Kamar madinyapun cukup bersih dengan kelengkapan air panas dingin dan handuk putih yang juga bersih. Cukuplah untuk sekedar beristirahat. Setelah mandi dan ganti baju kami mulai menyusuri jalan jalan di kota tua Melaka ini tentunya sambil menenteng camera. Kami tidak perlu mencari transportasi karena semua onjek wisata ada disekitar kota tua ini. Selain bangunan bangunan tua diantaranya museum, gereja, jembatan dan replica kincir angin juga ada bekas benteng kecil yang meriamnya ber cap VOC. Banayak turis berkumpul dihalaman tugu dan airmancur Victoria Regina yang bertarich 1904 untuk memperingati masa hidupnya 1837-1901. Melihat beragamnya peninggalan nampaknya ada beberapa bangsa yang pernah singgah di Melaka ini. Portugis, Inggris, dan Belanda nampak dari peninggalan benteng, gereja, kincir, replica kapal dagang kayu dan beberapa gedung tua. Namun juga bangsa Cina sudah terlebih dulu mendarat di Malaka sekitar 6 abad yang lalu yang dikenal dengan pelayaran yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho. Object peninggalan para bekas penjajah ini berada disekitar sungai Melaka yang juga difasilitasi dengan river cruse menyusuri sungai nya. Kami tidak ikut cruse ini sebab dikiri kanan sungai telah dibuat jalan bagi pejalan kaki dan sepeda. Jalan ini yang dilengkapi dengan lampu lampu taman bergaya Eropa dan trotoir yang cukup bersih dan rapi dibeberapa tempat disediakan restaurant untuk sekedar makan dan minum sambil menikmati udara laut dan lalu lalang nya river cruse yang melayani penumpang sampai jam 12 tengah malam. Anda juga dapat menikmati jalan Jonker yang dirubah menjadi pasar malam. Jalan sepanjang 200 meteran ini ramai dengan bermacam jualan makanan dan pernak pernik souvenir khas Melaka. Diujung jalan ada panggung terbuka yang nampaknya diusahakan oleh kaum peranakan Cina untuk bercengkerama bersama komunitasnya bernyanyi dan menari diatas panggung diiringi music. Bukan penyanyi professional karena banyak ibu ibu dan bapak bapak yang umumnya sudah separuh baya lebih yang mengisi di panggung bergantian. Disuatu gang di Jonker street ini ada petunjuk arah Makam Hang Jebat seorang pahlawan Melayu yang namanya juga diabadikan pada sebuah jalan di Jakarta. Sungguh lengkap melihat catatan sejarah Melaka ini sehingga Melaka bersama George Town dijadikan sebagai peninggalan dunia (World Heritage City) oleh UNESCO pada 7 July 2008. Kami menyusuri jalan jalan sambil hunting foto dan beristirahat makan malam ditepi sungai menghadap ke pantai sampai jam 11 malam. Yang menarik sampai jam 11 malam masih banyak orang antri untuk dapat giliran naik River Cruise dan juga masih banyak becak berlampu warna warni menghantarkan tamu mengelilingi kota tua tsb.  Dalam renunganku aku membayangkan sebenarnya kota tua Jakarta tidak kalah dalam jumlah object peninggalan dan dapat mengundang lebih banyak turis seandainya ditata dengan rapi, terang, bersih dan tentunya aman. Malaysia memang harus diakui telah mampu menjual hal hal yang sederhana menjadi tujuan wisata yang menarik. Hanya semalam kami di Melaka dan esoknya kami harus pulang kembali ke tanah air melalui Dumai. Seperti perkiraan kami, kapal yang sama berangkat tepat waktu dari terminal keberangkatan Melaka jam 10 tepat waktu setempat. Kami tiba di Dumai jam 11:30 disambut dengan kabut asap seperti waktu kami berangkat kemarin.

 

Duri 3 Maret 2014.      


0 






HomePHOTO GALLERYOUR SERVICEARTICLE (ENGLISH)OUR PRODUCT ContactARTIKEL (INDONESIA)International Travelling & PhotosAccessory Gallery