Home

PHOTO GALLERY

OUR SERVICE

ARTICLE (ENGLISH)

OUR PRODUCT

Contact

ARTIKEL (INDONESIA)

International Travelling & Photos

Accessory Gallery
Motret Apik
Motret Apik mean taking good pictures
Asyiknya Hunting Pasar Tradisional
Tips Motret Pertunjukan di Panggung
Belajar foto wedding
Tips memotret didepan pelaminan
Tips foto di ministudio
Mengenal HDR
Pengalaman motret di Saudi saat musim haji 1995
Membangun kemitraan dengan model
Kapan dan Mengapa menggunakan Manual
Melukis dengan cahaya
Hunting sekitar Semarang
Apakah Fotografi High Key (HK)
Optical Zoom dan Digital Zoom
Merancang album foto sejak pemotretan
Tips aman motret dilaut
Foto Udara
Foto Potret
Pengalaman motret di Saudi saat musim haji 1995
Pengalaman motret di Saudi saat musim Haji,

oleh : Handayana
Kali ini penulis menceritakan pengalaman kurang baik bukan pengalaman yang bagus saat penulis berkesempatan berangkat haji tahun 1995. Sebagai fotografer hobby, kemanapun penulis pergi tak pernah ketinggalan kamera tentunya, demikian pula ketika berhaji. Bukannya tidak focus dengan tujuan haji tapi siapapun pasti ingin punya kenang kenangan berfoto ria di tanah suci. Saat itu ere kamera digital baru mulai namun kamera analog yang menggunakan film masih lebih banyak. Selain kualitas kamera digital belum seperti sekarang, juga harganya masih relative mahal. Saat itu kamera digital yg pernah saya coba milik adik saya dengan kapasitas sensor 350 kb, jadi kalau dicetak sebesar postcard aja gambarnya pecah. Ini juga yang menyebabkan para fotografer yang terbiasa dengan analog menyambut setengah hati datangnya technology digital. Penulis masih ingat ketika kamera digital dengan kapasitas menembus 1 Megapixels keluar dipasaran sekitar th 1991, beritanya disambut antusias dan harapan bahwa technology digital akhirnya akan menyamai bahkan melebihi kualitas kamera analog. Penulis sendiri bertahan sampai th 2003 baru membeli kamera digital dengan sensor 5 Megapixels.
Kembali ke cerita motert di saat musim haji, dengan kamera analog yg relative besar sosoknya, kehadirannya selalu menarik perhatian orang disekitarnya. Masuk Masjidilharam jelas dilarang, mau motret diluar masjid juga harus curi curi. Ini menyebabkan penulis kurang leluasa dalam mengambil gambar kota Makkah dan Madinah. Apalagi masjid masjid yg indah dan megah disana hamper tak ada dalam foto penulis. Di Saudi saat itu memang agak sensitive memotret apapun. Maklum kalau orang gampang curiga dengan yg namanya kamera dikawasan yang selalu bergolak. Tak perduli apakah itu jemaah haji atau apapun, walau jemaah haji Indonesia sekalipun. Maka suatu hari ketika penulis sedang mengambil foto sekumpulan burung dara yang sedang makan jagung tebaran salah satu jemaah disekitar Pasar Seng, tiba tiba datang seorang pemuda arab. Penulis langsung sadar bahwa ini pasti akan jadi masalah. Benar saja dengan bahasa yg tidak penulis pahami, intinya dia protes dan berusaha merampas kamera saya. Sedikit bersitegang saya dengan dia, saya katakana bahwa saya tidak memotret fasilitas vital sperti masjid atau perkantoran pemerintah, tapi tetap aja dia ngeyel. Akhirnya saya keluarkan film yang ada didalam kamera dan saya buang, baru dia pergi. Itulah deal yang terjadi agar kamera saya tidak dirampas. Bayangkan beberapa foto yang telah saya kumpulkan sejak hari pertama datang, musnah sudah. Tentunya saya membeli lagi film untuk motret dengan curi curi dan hati hati supaya dapat mengambil foto saat musim haji. Tidak banyak dan tidak terlalu bernafsu, yang penting ada beberapa kenangan di Saudi saat musim haji.





HomePHOTO GALLERYOUR SERVICEARTICLE (ENGLISH)OUR PRODUCT ContactARTIKEL (INDONESIA)International Travelling & PhotosAccessory Gallery